Selasa, 17 Desember 2019

Perbaikan pelayanan BPJS untuk mendukung program pelayanan kesehatan

                                             Anggaran Kesehatan 2020 Naik 2 Kali Lipat, Ini Alasannya

Untuk mendukung keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemerintah menetapkan anggaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi Rp 48,8 triliun. Anggaran ini naik hampir dua kali lipat dibandingkan 2018 senilai Rp 26,7 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah juga fokus melakukan perbaikan sistem dan manajemen JKN. Selain itu akan dilakukan penyesuaian iuran peserta JKN non PBI. Penyesuaian dilakukan untuk menjamin kesinambungan layanan kesehatan yang berkualitas.

"Peningkatan anggaran PBI JKN oleh pemerintah ditujukan untuk menjamin kesinambungan layanan kesehatan yang berkualitas. Sementara tarif iuran segmen non PBI nanti disesuaikan dengan mempertimbangkan tingkat kolektabilitas," kata Sri Mulyani, Jumat (16/08/2019).


Pemerintah juga akan melakukan perbaikan sistem kepersertaan dan manajemen iuran data base peserta, dan optimalisasi kepesertaan badan usaha. Perbaikan sistem pelayanan seperti pencegahan fraud, perbaikan sistem rujukan, dan pengendalian serta efisiensi layanan.

Tidak hanya itu, Sri Mulyani menekankan akan melakukan perbaikan strategic purchasing, perbaikan sistem pembayaran dan pemanfaatan dana kapitasi. Perbaikan juga mencakup sinergitas antar penyelenggara jamsos, implementasi urun biaya dan selisih bayar, serta pengendalian biaya operasional.

Program JKN ini juga akan memperkuat peranan Pemda diantaranya adalah Mendukung peningkatan kepesertaan JKN yaitu PPU BU dan PPBU. Kemudian pembiayaan JKN (pajak, rokok, integrasi Jamkesda ke BPJS kesehatan) dan penguatan promotive, preventif dan supply side.


Pada Pidato Nota Keuangan 2019 Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menyatakan program BPJS Kesehatan dan JKN akan dibenahi secara total. Pada 2020, pemerintah juga akan menyalurkan anggaran pada 96,8 juta jiwa penerima bantuan iuran JKN.

"Pemerintah juga terus memberikan perlindungan, khususnya bagi 40% lapisan masyarakat terbawah. Agar perlindungan sosial itu efektif dan efisien, Pemerintah terus memperbaiki target sasaran, meningkatkan sinergi antar-program, dan melakukan evaluasi agar kebijakan berbasis bukti," kata Jokowi dalam pidatonya.

Angka stunting 30 % di Indonesia


                                                        
           Angka Stunting Berkurang jadi 30,8 Persen, Menkes Belum Puas


Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti pentingnya kesehatan ibu dan anak. Sebab mulai 2019, pemerintah akan melakukan pembangunan kesehatan melalui program peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia.
Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengatakan, selain peningkatan kesehatan ibu anak, keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, prioritasnya pada 2019 antara lain percepatan penurunan stunting. Seperti yang diketahui, stunting menjadi salah satu kasus yang mengkhawatirkan di tanah air.
Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas), angka stunting menurun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 30,8 persen pada akhir 2018. Meski demikian, upaya penurunan terus dilakukan.
“Kita menginginkan anak-anak kita menjadi anak-anak yang cerdas. Kita ini masih tiga anak di antara 10 menderita stunting,” ujar Nila dalam konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (10/1).
Sementara itu, rekomendasi dari World Health Organization (WHO) yakni sebanyak dua anak dari 10 yang menderita stunting. Nila berharap, pihaknya bisa menekan angka hingga di bawah rekomendasi itu.
“Kalau bisa kita di bawah itu, tidak ada lagi anak yang kekurangan gizi,” tegas dia.
Pasalnya, kondisi stunting pada anak bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kecerdasan anak. Bahkan, anak stunting juga berpotensi mengalami penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, hingga stroke.
Oleh karena itu, berbagai program pembangunan kesehatan yang mendukung penurunan stunting, yaitu penguatan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) dan pengendalian penyakit, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta pemantapan penyelenggaraan JKN-KIS.

SOLOK - Kabupaten Solok merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki angka stunting yang tinggi. Hal ini tentunya perlu perhatian dari semua pihak, tidak terkecuali para generasi muda Solok untuk membantu menurunkan angka prevalensi stunting di daerahnya."Dari hasil pemantauan status gizi yang dilakukan pada Agustus 2018, prevalensi stunting di Kabupaten Solok sebesar 30,5 persen," ujar Asisten Koordinator Bidang Ekonomi Pembangunan Kesejahteraan Rakyat (Ekbangkesra) Kabupaten Solok, Medison, di Solok, Kamis (3/10/2019) lalu.

Angka tersebut setara dengan angka prevalensi stunting secara nasional. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka stunting di Indonesia masih sebesar 30,8 persen. Angka ini tentu masih tinggi dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) yakni 20 persen.

Oleh karena itu, Pemeritah Kabupaten (Pemkab) Solok berharap semua pihak diharapkan ikut peduli dan bergerak dalam rangka penurunan angka prevalensi stunting termasuk remaja.
"Untuk menangani stunting ini tidak bisa hanya dengan cara penanggulangan, tapi juga perlu dilakukan tindakan pencegahan. Oleh karena itu, penting untuk para remaja mendapatkan akses edukasi mengenai gizi seimbang dan kesehatan karena merekalah yang nanti akan melahirkan generasi berikutnya di masa depan," ujar Medison.

Oleh karena itu, Pemkab Solok menyambut baik kehadiran forum sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Solok, Kamis, 3 Oktober 2019.

"Kami berharap para peserta dapat memahami pemaparan dari narasumber di Genbest Solok ini dan nantinya bisa menjadi agen pencegahan stunting di Kabupaten Solok. Mereka bisa menyebarkan informasi ini kepada keluarga, teman-teman dan lingkungannya," ujar Medison.
Kepala Seksi Produksi Konten dan Diseminasi Info Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK), Kementerian Kominfo, Septa Dewi Anggraeni berharap dengan adanya Forum Sosialisasi Genbest ini, para remaja Solok juga dapat menjadi agen komunikasi dalam menyosialisasikan dan mengomunikasikan mengenai pencegahan stunting kepada teman-teman sebaya mereka baik melalui tatap muka maupun melalui media sosial.

“Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2030. Bonus demografi ini akan menjadi sia-sia jika generasi mendatang terkena stunting. Oleh karena itu, stunting harus dicegah sejak remaja dengan memberikan pemahaman tentang pencegahan stunting dan pola hidup bersih dan sehat. Hal ini dikarenakan nantinya para remaja inilah yang di masa depan nanti akan menjadi ibu dan melahirkan generasi selanjutnya yang terbebas dari stunting,” tutup Septa.

Senin, 28 Oktober 2019

Cara menjaga kesehatan gigi dan mulut



 Hasil gambar untuk karies gigi



Cara mudah menjaga kesehatan gigi dan mulut

1. Jangan sikat gigi terlalu keras

Salah satu tujuan sikat gigi adalah menghilangkan plak gigi. Namun, jika Anda menyikat gigi terlalu keras, gesekannya dapat merobek gusi dan mengikis enamel gigi yang relatif tipis. Akibatnya, gigi Anda jadi lebih sensitif. Selain itu, cara sikat gigi yang tidak benar dapat menyebabkan plak gigi malah menumpuk dan mengeras yang dapat berakibat pada gingivitis (peradangan gusi).
Menyikat gigi haruslah dilakukan secara lembut dengan gerakan memutar dan memijat gigi. Biasanya, lama durasi yang efektif untuk sikat gigi adalah sekitar dua menit.

2. Sikat gigi sebelum tidur

Anda pasti tahu jika Anda dianjurkan untuk sikat gigi setidaknya dua kali sehari: bangun pagi dan sebelum beranjak tidur.
Sikat gigi sebelum tidur ternyata dapat menghilangan kuman dan plak pada gigi Anda yang menumpuk lama sepanjang hari. Selain menyikat gigi, Anda juga dianjurkan untuk menyikat lidah demi menghilangkan kuman atau plak yang menempel pada lidah.

3. Gunakan pasta gigi berfluorida

Fluorida adalah unsur alami yang dapat ditemukan di banyak hal, seperti air minum dan makanan yang Anda konsumsi. Fluorida diserap tubuh untuk digunakan oleh sel-sel yang membangun gigi Anda untuk menguatkan enamel gigi. Fluorida juga merupakan pertahanan utama terhadap kerusakan gigi yang bekerja dengan memerangi kuman yang dapat menyebabkan kerusakan, serta menyediakan perlindungan alami untuk gigi Anda. Oleh karena itu, gunakanlah pasta gigi yang mengandung fluorida.

4. Jangan merokok

Tembakau dapat menyebabkan gigi menguning dan bibir menghitam. Merokok juga melipatgandakan risiko Anda terhadap penyakit gusi dan kanker mulut. Oleh karena itu, berhenti merokok sekarang juga.

5. Minum lebih banyak air

Air merupakan minuman terbaik untuk kesehatan Anda secara keseluruhan, termasuk bagi kesehatan mulut Anda karena aktivitas minum dapat membantu membersihkan beberapa efek negatif dari makanan dan minuman yang menempel pada gigi Anda. Bosan dengan rasa air putih yang hambar? Kami punya banyak cara kreatif untuk melatih Anda lebih banyak minum air putih.

6. Batasi konsumsi makanan yang manis dan asam

Anda mungkin seringkali mendengar nasihat, “Jangan banyak makan makanan manis, nanti giginya bolong”. Ternyata, kita memang tidak boleh sembarangan membantah nasehat orangtua. Makanan manis dan asam akan diubah menjadi asam oleh bakteri di mulut yang kemudian dapat menggerogoti enamel gigi Anda. Asam inilah yang menyebabkan gigi Anda cepat berlubang.
Tidak perlu menghentikan konsumsi gula sama sekali untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, Anda hanya perlu membatasi konsumsinya.

7. Makan makanan yang bergizi

Sama halnya dengan air, makan makanan yang bergizi juga baik untuk kesehatan gigi dan mulut Anda. Makan makanan yang bergizi — termasuk biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran, dan produk susu — dapat memberikan semua nutrisi yang Anda butuhkan. Bahkan, sebuah studi menemukan bahwa omega-3 lemak — jenis lemak sehat dalam makanan laut— dapat dapat mengurangi risiko peradangan, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit gusi.

KESEHATAN GIGI DAN MULUT MASA KEHAMILAN






KESEHATAN GIGI DAN MULUT  MASA KEHAMILAN

Perawatan kesehatan gigi dan mulut sebelum masa kehamilan
merupakan bagian dari perawatan kesehatan secara keseluruhan.
Setiap tenaga pelayanan kesehatan dapat memainkan peranan
penting dalam mendorong calon ibu hamil untuk memeriksakan
kondisi gigi dan mulut ke fasilitas pelayanan kesehatan gigi. Selain
itu juga meningkatkan kesadaran calon ibu tentang pentingnya
kesehatan gigi-mulut dan meluruskan kesalahpahaman seperti
keyakinan bahwa kehilangan gigi dan perdarahan di mulut adalah
"normal" selama kehamilan. Demikian juga nyeri selama perawatan
gigi tidak dapat dihindari dan menunda pengobatan sampai setelah
kehamilan lebih aman untuk ibu dan janin.
Gigi berlubang yang tidak dirawat akan menyebabkan masalah
sistemik selama kehamilan dan dapat menyebabkan kelahiran
prematur dan berat bayi lahir rendah. Gigi berlubang yang tidak
dirawat tersebut dapat menyebabkan indikasi pencabutan yang
dilakukan pada saat kehamilan. Tindakan pencabutan gigi pada saat
hamil harus dihindari karena dapat membahayakan janin akibat
penggunaan obat anastesi atau timbulnya stres pada ibu hamil saat
pencabutan gigi.
Perubahan hormonal pada saat kehamilan yang disertai adanya
faktor lokal seperti plak atau karang gigi akan menimbulkan
pembesaran dan atau peradangan pada gusi. Keadaan ini akan
diperberat oleh kondisi gigi dan mulut sebelum kehamilan yang
sudah buruk.
2. KEHAMILAN
Kehamilan dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir,
untuk wanita yang sehat kurang lebih 280 hari atau 40 minggu.
Biasanya kehamilan dibagi dalam tiga bagian atau trimester untuk
masing-masing 13 minggu atau 3 bulan kalender.
Dalam kehamilan terjadi perubahan-perubahan fisiologis di
dalam tubuh, seperti perubahan sistem kardiovaskular, hematologi,
respirasi dan endokrin. Kadang-kadang disertai dengan perubahan
sikap, keadaan jiwa ataupun tingkah laku. Pada wanita hamil,
biasanya dapat terjadi perubahan-perubahan sebagai berikut :
a. Perubahan Fisiologis (Perubahan Normal pada Tubuh)
 Penambahan berat badan.
 Pembesaran pada payudara.
 Bisa terjadi pembengkakan pada tangan dan kaki, terutama
pada usia kehamilan trimester III (6-9 bulan).
 Perubahan pada kulit karena adanya kelebihan pigmen
pada tempat-tempat tertentu (pipi, sekitar hidung, sekitar
puting susu dan diatas tulang kemaluan sampai pusar).
Dapat terjadi penurunan pH saliva.
b. Perubahan Psikis (Perubahan yang Berhubungan dengan
Kejiwaan)
Sering terjadi pada usia kehamilan muda (trimester I atau 0-3
bulan)
 Morning sickness (rasa mual dan ingin muntah terutama
pada waktu pagi hari).
 Rasa lesu, lemas dan terkadang hilang selera makan.
 Perubahan tingkah laku diluar kebiasaan sehari-hari
seperti “ngidam” dan sebagainya.
Keadaan tersebut menyebabkan ibu hamil sering kali
mengabaikan kebersihan dirinya, termasuk kebersihan giginya,
sehingga kelompok ibu hamil sangat rawan atau peka terhadap
penyakit gigi dan mulut.
Ada beberapa hal dalam kesehatan gigi dan mulut yang perlu
mendapat perhatian selama masa kehamilan, antara lain:
a. Trimester I (masa kehamilan 0 – 3 bulan)
Pada saat ini ibu hamil biasanya merasa lesu, mual dan kadangkadang
sampai muntah. Lesu, mual atau muntah ini
menyebabkan terjadinya peningkatan suasana asam dalam
mulut. Adanya peningkatan plak karena malas memelihara

kebersihan, akan mempercepat terjadinya kerusakan gigi.
Beberapa cara pencegahannya:
Pada waktu mual hindarilah menghisap permen atau
mengulum permen terus-menerus, karena hal ini dapat
memperparah kerusakan gigi yang telah ada.
 Apabila ibu hamil mengalami muntah-muntah hendaknya
setelah itu mulut dibersihkan dengan berkumur
menggunakan larutan soda kue (sodium bicarbonate) dan
menyikat gigi setelah 1 jam.
 Hindari minum obat anti muntah, obat dan jamu
penghilang rasa sakit tanpa persetujuan dokter, karena ada
beberapa obat yang dapat menyebabkan cacat bawaan
seperti celah bibir.
b. Trimester II (masa kehamilan 4 – 6 bulan)
Pada masa ini, ibu hamil kadang-kadang masih merasakan
hal yang sama seperti pada trimester I kehamilan. Karena itu
tetap harus diperhatikan aspek-aspek yang dijelaskan diatas.
Selain itu, pada masa ini biasanya merupakan saat
terjadinya perubahan hormonal dan faktor lokal (plak) dapat
menimbulkan kelainan dalam rongga mulut, antara lain:
 Peradangan pada gusi, warnanya kemerah-merahan dan
mudah berdarah terutama pada waktu menyikat gigi. Bila
timbul pembengkakan maka dapat disertai dengan rasa
sakit.


a. Gingivitis Kehamilan (Pregnancy Gingivitis)
Sebagian besar ibu hamil menunjukan perubahan pada
gusi selama kehamilan akibat kurangnya kesadaran menjaga
kebersihan gigi dan mulut. Gusi terlihat lebih merah dan mudah
berdarah ketika menyikat gigi, penyakit ini disebut gingivitis
kehamilan, biasanya mulai terlihat sejak bulan kedua dan
memuncak sekitar bulan kedelapan.
Gingivitis kehamilan paling sering terlihat di gusi bagian
depan mulut. Penyebabnya adalah meningkatnya hormon sex
wanita dan vaskularisasi gingiva sehingga memberikan respon
yang berlebihan terhadap faktor iritasi lokal. Faktor iritasi lokal
dapat berupa rangsangan lunak, yaitu plak bakteri dan sisa-sisa
makanan, maupun berupa rangsang keras seperti kalkulus, tepi
restorasi yang tidak baik, gigi palsu dan permukaan akar yang
kasar. Hal ini menunjukkan bahwa kehamilan bukanlah
menjadi penyebab langsung dari gingivitas kehamilan, tetapi
juga tergantung pada tingkat kebersihan mulut pasien.
Selama kehamilan, tingkat progesteron pada ibu hamil bisa
10 kali lebih tinggi dari biasanya. Hal ini dapat meningkatkan
pertumbuhan bakteri tertentu yang menyebabkan peradangan
gusi. Juga perubahan kekebalan tubuh selama kehamilan yang
menyebabkan reaksi tubuh yang berbeda dalam menghadapi
bakteri penyebab radang gusi.
Gambar 1. Gingivitis Kehamilan
b. Granuloma Kehamilan (Epulis Gravidarum)
Kehamilan dapat pula menimbulkan suatu pembentukan
pertumbuhan berlebih pada gingiva seperti tumor. Istilah yang
digunakan untuk keadaan ini adalah pregnancy tumor atau
tumor kehamilan, epulis gravidarum ataupun granuloma
kehamilan. Tidak berbahaya tetapi dapat menyebabkan
ketidaknyamanan. Biasanya berkembang pada trimester kedua.
Bentuknya seperti nodul berwarna merah keunguan sampai
merah kebiruan, mudah berdarah, sering terlihat pada gusi
rahang atas, tetapi dapat juga ditemukan di tempat lain di
mulut.
Penyebab pasti tidak diketahui, meskipun faktor utamanya
adalah kebersihan mulut yang buruk. Selain itu faktor penyebab
lainnya adalah trauma, hormon, virus dan pembuluh darah
yang pecah. Ibu hamil yang memiliki granuloma kehamilan
biasanya juga menderita gingivitis kehamilan yang luas.
Granuloma kehamilan akan menghilang setelah bayi lahir.
c. Karies Gigi
Kehamilan tidak langsung menyebabkan gigi berlubang.
Meningkatnya gigi berlubang atau menjadi lebih cepatnya proses
gigi berlubang yang sudah ada pada masa kehamilan lebih
disebabkan karena perubahan lingkungan di sekitar gigi dan
kebersihan mulut yang kurang.
Faktor-faktor yang dapat mendukung lebih cepatnya proses
gigi berlubang yang sudah ada pada wanita hamil karena pH
saliva wanita hamil lebih asam jika dibandingkan dengan yang
tidak hamil dan konsumsi makan-makanan kecil yang banyak
mengandung gula. Rasa mual dan muntah membuat wanita
hamil malas memelihara kebersihan rongga mulutnya,
akibatnya serangan asam pada plak yang dipercepat dengan
adanya asam dari mulut karena mual atau muntah tadi dapat
mempercepat proses terjadinya gigi berlubang.
Gigi berlubang dapat menyebabkan rasa ngilu bila terkena
makanan atau minuman dingin atau manis. Bila dibiarkan tidak
dirawat, lubang akan semakin besar dan dalam sehingga
menimbulkan pusing, sakit berdenyut bahkan sampai
mengakibatkan pipi menjadi bengkak.

Perbaikan pelayanan BPJS untuk mendukung program pelayanan kesehatan

                                             Untuk mendukung keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemerintah menetapk...